Muslim Itu Seperti Hujan Cerita hujan. “Seperti hujan,” tutur Asma binti Abdul Aziz dalam kunjungannya ke ma’had saya beberapa waktu lalu. Beliau adalah adik ipar Syaikh As-Sudais, salah seorang Imam Masjidil Haram. Wanita muda bersahaja itu kagum melihat hijaunya Indonesia (setidaknya Bogor, di kaki Gunung Salak). Tumbuh-tumbuhan bermacam rupa, berbuah, berbunga-bunga. Bentangan sawah, perkebunan… dan hujan. Di negerinya, hujan selalu dinantikan. Di daratan yang gersang, siang hari sangat panas dan malam menjadi sangat dingin. Nyaris tidak ada hujan. Kering. Padahal, hujanlah yang menjadi penyeimbang siang dan malam, penyegar negerinya. “Dan Dialah yang mengirimkan angin sebagai kabar gembira yang mendahului rahmat-Nya, dan Kami menurunkan air yang bersih dari langit. Dengan itu Kami hidupkan negeri yang sudah mati, dan Kami beri minum segala yang Kami ciptakan, hewan ternak dan manusia yang banyak.” (QS Al Furqon: 48—49) Hujan, butir-butir yang turun setelah angin memb...
Seperti deiksis, semua tentang persona, ruang, dan waktu...