Langsung ke konten utama

Muslim Itu Seperti Hujan

Muslim Itu Seperti Hujan

Cerita hujan.
“Seperti hujan,” tutur Asma binti Abdul Aziz dalam kunjungannya ke ma’had saya beberapa waktu lalu.  Beliau adalah adik ipar Syaikh As-Sudais, salah seorang Imam Masjidil Haram. Wanita muda bersahaja itu kagum melihat hijaunya Indonesia (setidaknya Bogor, di kaki Gunung Salak). Tumbuh-tumbuhan bermacam  rupa, berbuah, berbunga-bunga. Bentangan sawah, perkebunan… dan hujan.

Di negerinya, hujan selalu dinantikan. Di daratan yang gersang, siang hari sangat panas dan malam menjadi sangat dingin. Nyaris tidak ada hujan. Kering. Padahal, hujanlah yang menjadi penyeimbang siang dan malam, penyegar negerinya.

“Dan Dialah yang mengirimkan angin sebagai kabar gembira yang mendahului rahmat-Nya, dan Kami menurunkan air yang bersih dari langit. Dengan itu Kami hidupkan negeri yang sudah mati, dan Kami beri minum segala yang Kami ciptakan, hewan ternak dan manusia yang banyak.” (QS Al Furqon: 48—49)

Hujan, butir-butir yang turun setelah angin membuai awan ini selalu menjadi prolog yang menyenangkan untuk dilukiskan. Butiran air hujan berubah bentuk ratusan kali setiap detik, seolah selalu memiliki sisi-sisi yang unik. Tak pernah membosankan. Jika butiran-butiran itu dibekukan, terbentuklah keping -keping kristal mengagumkan.

Bahkan, setelah kepergiannya pun, hujan masih menyisakan pesona. Tanah basah, rerumputan, dan ilalang akan menyebarkan wangi yang khas. Para ilmuan bilang, senyawa tersebut bernama petrichor.


Yang paling misterius dan mengejutkan, para ilmuan mengatakan pula bahwa hujan mampu menghipnotis manusia untuk meresonansikan ingatan masa lalu. Tak bisa dibuktikan secara ilmiah, namun mereka hanya bisa menyimpulkan “Di dalam hujan, ada melodi yang hanya bisa didengar oleh mereka yang rindu”.   Pada titik inilah manusia biasanya mendapatkan inspirasi.

Hm…

 Seperti hujan
“Seperti hujan. Muslim itu seperti hujan,”  Kata-kata Asma binti Abdul Aziz begitu mengesankan bagi saya.
Benar, di mana saja seorang muslim berada, ia mestinya membawa inspirasi, kedamaian, ketentraman, dan kebaikan untuk orang-orang di sekelilingnya.  Muslim sejati, selain aqidahnya shahihah, akhlaqnya pun karimah.

Jangan disangka Islam hanya menyuruh sholat, puasa, atau haji saja. Juga jangan dikira perbuatan baik  yang diajarkan Islam hanya seputar sedekah dan menyantuni anak yatim saja. Sepanjang perjalananku di kota hujan aku banyak belajar bahwa Islam bahkan mengajarkan kita hal-hal kecil tapi luar biasa seperti  anjuran untuk berwajah ceria. Bukankah itu sangat manis?

Rasulullah salallahu’alaihi wasallam bersabda , "Jangan meremehkan kebaikan apapun, walau sekadar menyambut kawan dengan wajah yang ceria." (H.R. Muslim).

Islam juga menganjurkan kita untuk saling memberi hadiah,
“Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling menyayangi” (HR Bukhari)

juga mendoakan orang yang bersin,  
Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada enam: jika bertemu ucapkanlah salam, jika mengundangmu penuhilah, jika meminta nasihat maka nasihatilah, dan jika bersin dan mengucapkanAlhamdulillah maka jawablah (dengan mengucap yarhamukallah, artinya ‘semoga Allah memberi rahmat kepadamu’), jika sakit tengoklah, dan jika meninggal antarkanlah jenazahnya.(HR. Bukhari Muslim)

Islam pula yang mengajarkan pemeluknya untuk senantiasa itsar ‘mendahulukan orang lain’. Dalam hal minum, misalnya, dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu,  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Sesungguhnya orang yang menyuguhkan minuman kepada sekelompok orang adalah orang yang minum terakhir kali.” (HR Muslim)

Dengan demikian, tentu saja, Islam memperingatkan kita atas segala bentuk perbuatan yang menyakiti orang lain.  
“Janganlah kamu semua saling membenci, hasut-menghasut, belakang-membelakangi, dan memutuskan tali persaudaraan. Akan tetapi, jadilah kamu semua sebagai hamba Allah yang bersaudara. " (HR Bukhari Muslim)

Untuk itulah, Islam melarang kita mendiamkan saudara kita lebih dari tiga hari,
“Tidak halal seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam; keduanya bertemu lalu yang ini berpaling dan yang itu berpaling. Yang terbaik di antara keduanya ialah orang yang memulai mengucapkan salam'. “(HR. Muslim)

juga melarang kita berbisik-bisik berdua dengan mengabaikan orang ketiga.
 “Apabila kamu sedang bertiga maka janganlah dua orang berbisik tanpa menyertakan yang ketiga hingga mereka berbaur dengan orang ramai, karena hal itu dapat membuatnya sedih,” (HR Bukhari)

Pun dalam hal bertetangga. Saat manusia semakin sibuk dengan urusannya, asyik dengan kepentingan masing-masing, Islam justru sejak jauh-jauh hari memberi perhatian khusus dalam hal bertetangga.

Nabi Muhammad salallahu’alaihi wasallam senantiasa mendapatkan wasiat dari malaikat Jibril perihal tetangga sebagaimana sabda beliau,
Senantiasa Jibril memberikan wasiat kapadaku perihal tetangga, sampai aku mengira bahwa tetangga juga berhak mendapatkan harta waris.” (HR Bukhari dan Muslim)

“Sebaik-baik teman di sisi Allah adalah orang yang paling baik terhadap temannya, dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah orang yang paling baik terhadap tetangganya.” (HR At Tirmidzi, dari sahabat Ibu Umar, dishahihkan Asy Syaikh Al Albani dalam Al Adabul Mufrad no. 115 )

Dapat disimpulkan pula dari hadits di atas, barang siapa yang tidak memuliakan (peduli) tetangganya maka ia akan menjadi calon tetangga yang paling buruk di sisi Allah .

Dalam hal amal ma’ruf nahi mungkar , mengajak pada kebaikan dan melarang kemunkaran, Islam pun mengutamakan cara yang baik.
“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS An- Nahl:125)

Oleh sebab itu, sabar dan lembut sangatlah penting dalam atau berinteraksi dengan sesama.

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS Ali Imran: 159)

Begitu pula dalam berdiskusi. Ada sebuah pelajaran menarik dari Hatim Al-Ashom yang berkata,
"Aku memiliki 3 kunci dalam berdebat: aku bergembira bila lawanku benar, aku sedih bila dia salah, dan aku menjaga diriku untuk tidak menyakitinya...."

Al Qur’an pun mengisahkan banyak sekali cerita tentang pentingnya  bermuamalah dengan hikmah. Allah telah memerintahkan Musa dan Harun ‘alaihimassalam tatkala mengutus keduanya kepada Fir’aun agar mengucapkan kepadanya kata-kata lembut. Padahal Fir’aun adalah orang yang paling jahat. Allah berfirman, “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah-lembut, mudah-mudahan ia teringat atau takut.” (QS Thaha: 44)

Kisah lain. Suatu hari ada seseorang yang menemui khalifah Harun Ar Rasyid dan berkata, “Wahai Harun, aku akan berbicara dengan keras dan aku ingin menasihatimu!” Maka Harun Ar Rasyid menjawab, “Wahai Fulan, aku tidak mau mendengar perkataanmu, sebab aku tidaklah lebih jahat dari Fir’aun dan engkau pun tidak lebih baik dari Musa ‘alaihissalam. Padahal Allah ta’ala telah memerintahkan Musa untuk bertutur lemah lembut kepada Fir’aun.”

Epilog hujan
 “Allah SWT menciptakan air di awan. Kadang dengan mengubah udara menjadi air. Adakalanya udara membawa air itu dari laut lalu membuahi awan dengan air tersebut dan menurunkannya ke bumi dengan hikmah-hikmah yang telah kami sebutkan. 

 Kalau saja Allah SWT menggiring air dari laut ke darat dengan mengalir di permukaan bumi, tentu tidak terjadi siraman yang meluas. Selain itu, pasti akan merusak banyak bagian bumi.

Oleh karena itu, Allah SWT menaikkannya ke angkasa dengan kelembutan dan kekuasaan-Nya, lalu diturunkan-Nya lagi ke permukaan bumi dengan penuh hikmah. Seluruh makhluk berakal tidak dapat merekomendasikan suatu usulan yang lebih baik.

 Allah SWT menurunkan air, dan bersamaan dengan itu, turun pula rahmat-Nya.” (Ibnul Qoyyim Al Jauziyah dalam Miftah Dar as-Sa’adah)

Layaknya rinai hujan yang turun menderas, masih banyak butir-butir hikmah tentang akhlak seorang muslim yang belum tercurah dalam tulisan ini. Semoga Allah memudahkan kita untuk mengetahui lebih banyak lagi, mengamalkannya, dan menyebarkannya. Semoga Allah memudahkan kita untuk menjadi seperti hujan…

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Road Not Taken: It tells us about choosing.

Jalan yang Tak Diambil  -Robert Frost- Dua jalan bercabang di hutan yang menguning sayang, aku tak bisa menempuh keduanya sebagai seorang pengembara, lama aku berdiri   dan menatap salah satunya sejauh yang kubisa sampai jalan itu berkelok di balik semak belukar lalu kuteliti jalan yang lain, sama, mungkin malah tampak lebih baik berumput segar dan menarik hati meskipun jejak yang telah melewatinya juga telah merundukkan rerumputannya dan pagi itu dua jalan sama-sama terbentang tertutup daun-daun yang tak pernah terinjak oh, kusimpan jalan yang pertama untuk lain hari! meski aku tak tahu ujung jalan sana apakah ada jalan kembali Akan kuceritakan dengan lirih suatu waktu berabad kemudian:   Dua jalan terbentang di hutan, dan aku... aku mengambil jalan yang tak diambil orang lain dan kutahu, itulah yang membuat perbedaan The Road Not Taken;  -Robert Frost- Two roads diverged in a yellow wood And sorry I could not travel both   An...

Batu-Batu yang Menghalangi

Batu-Batu yang Menghalangi * Bukankah setiap lembar kehidupan yang kita tempuh dalam langkah kehidupan kita terdapat batu-batu yang menghalangi hingga kita mencapai tujuan akhir? Mengapa kita menginginkan semua ini segera berlalu, padahal kita tidak mengetahui kehidupan kita pada lembar yang akan datang, akankah lebih baik ataukah sebaliknya? Dalam setiap kehidupan manusia, pasti  akan ada ujian-ujian yang menimpanya. Semakin lama manusia menjalani kehidupan di permukaan bumi ini, semakin besar pula ujiannya. Setiap ujian seorang hamba disesuaikan dengan kadar keimanan hamba tersebut. Nabi sallahu’alaihi wasallam pernah ditanya, siapakah dari golongan manusia yang paling berat cobannya? Nabi menjawab, “Para Nabi, kemudian orang sholih, kemudian yang paling mirip dengan mereka, kemudian yang paling mirip dengan mereka di antara manusia. Seseorang diberi cobaan sesuai dengan diennya. Jika diennya kuat, cobaannya pun akan lebih berat dan jika diennya lemah, akan diringankan cobaann...