Langsung ke konten utama

Agar Ngampus-mu Berasa!!


Agar Ngampus-mu Berasa!!

on September 25, 2009

Berprestasi di Kampus? Let’s Do It!!!

Ingat cita-cita kita waktu kecil? Kebanyakan dari kita waktu kecil ingin jadi dokter, esoknya ingin jadi astronot, lusa mungkin ingin jadi dokter sekaligus astronot yang buka praktik di ruang angkasa. Cita-cita kita berubah-ubah, tetapi tetap itu-itu juga. Lihat betapa sebagian besar dari kita sepertinya telah terdoktrin; menganggap bidang-bidang eksakta lebih “eksklusif” dibandingkan bidang-bidang sosial. Hayoo... siapa yang kecewa karena kuliah di tempatnya yang sekarang??

“...boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu amat baik bagimu...” (Q.S. Albaqarah: 216)

Kita bukan anak SD lagi, Sobat. Juga bukan anak SMP dan SMA. Kita anak kuliahan sekarang, sudah saatnya mengubah paradigma atau cara berpikir kita. Bisa jadi, justru di tempat kita kuliah inilah kita merintis kesuksesan. 

Sesungguhnya, semua manusia diciptakan dengan segala kebaikan dan keistimewaannya, termasuk anugerah kecerdasan. Setiap manusia memiliki setidaknya delapan potensi kecerdasan. Multiple intelligence, kecerdasan majemuk. Pernah dengar? Kecerdasan lingusitik, matematis-logis, spasial, kinestetis-jasmani, musikal, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis. Kecerdasan manapun yang mendominasi diri kita semuanya istimewa, tinggal bagaimana caranya kita memaksimalkan potensi-potensi yang kita miliki. Jadi, sekat-sekat antara eksakta dan noneksakta kita hancurkan saja, ya! Fase kampus menempatkan kita pada sebuah amanah yang sama, yaitu belajar di jenjang yang lebih tinggi; dari siswa menjadi mahasiswa. 

Selain paradigma berpikir, apalagi yang harus kita ubah saat kita belajar di perguruan tinggi? Ya, makna belajar itu sendiri. Apakah kita ingin jadi pembelajar sejati ataukah sekadar pengumpul nilai? Seorang pengumpul nilai akan merasa “puas” jika berhasil mendapatkan nilai A atau B meskipun untuk memperolehnya ia harus melakukan kecurangan. Sebaliknya, seorang pembelajar sejati tidak pernah merasa dirinya “pandai”. Ia akan sangat menghargai setiap hal yang didengarnya, dipikirkannya, dan dirasakannya. 

Bagaimanakah karakter seorang pembelajar sejati? Ia tak pernah merasa “puas” hanya dengan pujian. Ia memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan sangat menghargai proses. Baginya, hasil akhir adalah sesuatu yang sangat subjektif bahkan bisa juga tidak lebih bernilai daripada pengalaman yang didapatkannya dari proses belajar. Oleh karena itu, pembelajar sejati menganggap seluruh peristiwa adalah pelajaran, segala tempat adalah sekolah, semua orang adalah sumber ilmu, dan setiap waktu adalah kesempatan untuk memperbaiki diri. Konon, karakter pembelajar sejati ini seringkali melahirkan tokoh-tokoh besar dalam sejarah. 

Ngomong-ngomong, sejarah tidak selalu melahirkan tokoh besar. Sebaliknya, terkadang sejarah lahir dari prestasi besar yang ditorehkan seorang tokoh. Sebagai contoh, sejarah kemenangan Islam di Andalusia tidak melahirkan seorang tokoh bernama Thariq bin Ziyad. Akan tetapi, prestasi Thariq bin Ziyad dan kematangannyalah yang dengan izin Allah telah mengukir Andalusia sebagai tanah air kejayaan Islam yang tercatat dalam sejarah. 

Memang, terkadang sejarah terlalu selektif dalam mencatat sebuah prestasi. Biasanya, sejarah hanya tertarik mencatat prestasi-prestasi besar. Lantas apakah kita akan menyingkirkan prestasi-prestasi “kecil” kita? Tentu tidak. Allah SWT saja akan mencatat kebaikan sekecil apapun yang dilakukan dengan ikhlas. Jadi, tak peduli apakah nama kita akan tercatat di ensiklopedi dunia atau tidak, setiap orang berhak bahkan harus mengisi waktunya dengan prestasi-prestasi yang dapat diusahakannya. Setuju dong..!?

Prestasi pada awalnya hanyalah sebuah cita-cita, kemudian bergerak menjadi suatu target yang termotivasi (azzam). Dari azzam, ia menjadi satuan aktivitas kerja yang terprogram (munaddham), profesional (itqan), sungguh-sungguh (mujahadah), dan tentunya semangat (hamasah). Allahu Akbar!

Aktivis Kampus, Nggak Sekadar Ngampus...

Selama masa studinya, banyak mahasiswa yang memiliki ketertarikan untuk “berbuat lebih” selain dari memajukan diri sendiri melalui angka-angka indeks prestasi. Oleh sebab itulah, kampus tidak pernah sepi dari para aktivisnya. 

Julukan “aktivis” seringkali diwakilkan pada teman-teman kita yang secara langsung maupun tidak langsung aktif dalam berbagai kegiatan, baik internal atau eksternal di kampusnya. Awalnya, alasan mereka mungkin hanya berkisar pada empat hal; mengisi waktu, menambah teman, cari pengalaman, atau belajar berorganisasi. Namun, menjadi aktivis kampus ternyata tidak sesederhana itu. Jika kita tidak sekadar mencantumkan nama atau menjadi penggembira di sebuah organisasi, insya Allah ada lebih banyak manfaat yang bisa kita dapatkan. Jauh lebih banyak daripada yang kita sadari. 

Sebab, tidak semua hal bisa kita dapatkan di bangku kuliah. Ada banyak hal yang tidak kita dapatkan hanya dengan datang ke kampus, kuliah, lalu pulang. Pelajaran tentang memahami orang lain, pelajaran tentang tanggung jawab, kepedulian, pelajaran tentang menyelesaikan masalah, memilih prioritas, dan lain sebagainya, hanya bisa kita dapatkan jika kita mengalaminya. 

Dengan melakukan berbagai aktivitas, semua potensi diri kita akan terus tergali. Jika potensi-potensi itu semakin terasah, aktivitas-aktivitas kita pun bisa semakin bermanfaat bagi orang lain. Ya, orientasi seorang aktivis semestinya bukan hanya untuk mendapatkan apa-apa yang tampak dan berguna bagi dirinya. “Khoirunnaas yanfa’un naas,” sabda Rasulullah SAW. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain. 

Cacing saja bisa menyuburkan tanah. Lebah menghasilkan madu. Matahari membawa kehangatan; angin membawa kesejukan; bunga membawa keindahan. Lantas apakah kita sudah banyak memberikan manfaat dalam hidup yang singkat ini? Padahal Allah SWT telah menciptakan kita sebagai makhluk dengan sebaik-baik bentuk. Nggak percaya? Coba deh buka terjemahan surat At-Tin.

Menurut Anis Matta, seorang muslim bukan hanya harus salih secara pribadi, melainkan juga harus memiliki afiliasi, partisipasi, dan kontribusi untuk masyarakat sekitarnya. Afiliasi, yaitu memahami dengan baik mengapa kita memilih Islam sebagai jalan hidup serta menjaga komitmen kita terutama dalam hal akidah (keyakinan), syariat (metodologi), dan akhlak (sikap). Partisipasi dapat dilakukan dengan terlibat dalam kehidupan sosial masyarakat secara sadar dan proaktif. Sebagai mahasiswa, inilah saatnya kita berpartisipasi dalam aktivitas-aktivitas sosial yang positif. Kotribusi berarti kita memilih satu bidang atau spesialisasi ilmu, atau pilihan aktivitas. Di antara kita mungkin ada yang memiliki banyak talenta. Akan tetapi kita tidak akan optimal jika melakukan segalanya sekaligus. Kita harus tahu di mana titik kekuatan kita sehingga bisa memberikan karya terbaik kita untuk Islam serta masyarakat kita pada umumnya. 

Menjadi aktivis bukan berarti jadi manusia supersibuk yang tidak mempedulikan orang lain. Justru aktivis harus sering bersosialisasi dengan lingkungan dan teman-teman. Mereka harus tetap berbaur sambil tetap memegang teguh prinsip-prinsip yang diyakininya serta membahasakan hal-hal yang dianggapnya benar dengan bijak, santun, dan dapat dipahami.

Hm, apakah terdengar berat menjadi seorang aktivis? Yah, jangan menyerah duluan! Mungkin aktivis selalu diidentikkan dengan kemampuan bicara di depan umum alias punya bakat ngomong. Benarkah? Ah, nggak juga! Setiap orang punya potensinya masing-masing. Ada teman-teman yang memang memiliki kelebihan dalam komunikasi verbal, ada yang spesialisasinya sebagai pengonsep atau tokoh di balik layar, ada juga yang lebih suka bekerja praktis di lapangan, dan lain-lain. Semuanya penting dan saling melengkapi. 

Yang tak kalah penting bagi seorang aktivis adalah perannya di tengah-tengah keluarga. Kesibukan yang begitu banyak terkadang membuat komunikasi dengan orang tua kita jadi tersendat. Akibatnya, tak jarang orang tua keberatan dengan aktivitas-aktivitas para aktivis. Oleh karena itu, kita perlu mengkomunikasikan aktivitas-aktivitas kita dan membuktikan manfaatnya. Selain itu, bagus juga jika bisa mengenalkan siapa teman-teman kita. Yang terpenting adalah memenuhi hak keluarga. Jangan sampai kita melupakan keluarga saat kita mulai asyik dengan berbagai kesibukan. Rasanya, tetap harus ada jatah waktu untuk sekadar bercengkrama bersama mereka. 

Namun, di atas segala hak dan kewajibannya, aktivis juga manusia. Manusia biasa yang bisa merasa jenuh. Futur, yaitu menurunnya kondisi ruhiyah, psikis, bahkan fisik yang mengakibatkan kemalasan dan hilangnya semangat sering dialami oleh kita yang memilih beraktivitas di luar kuliah. Jika kita punya masalah, ada beberapa saran yang bisa dicoba. Pertama, cari sumber masalahnya. Kedua, ceritakan pada orang yang kita percayai. Ketiga, cari solusi konkrit. Keempat, keluar sejenak dari masalah dengan membaca Qur’an atau melakukan hobi lainnya. Kelima, karena futur itu virus yang bisa menular, maka jangan sebarkan virus itu ke orang-orang di sekitar kita. Keenam, cari lebih banyak lagi saran tentang cara menyelesaikan masalah.

Akhirnya, setiap orang punya pilihan untuk mewarnai hidupnya, kan? The choise is yours!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Road Not Taken: It tells us about choosing.

Jalan yang Tak Diambil  -Robert Frost- Dua jalan bercabang di hutan yang menguning sayang, aku tak bisa menempuh keduanya sebagai seorang pengembara, lama aku berdiri   dan menatap salah satunya sejauh yang kubisa sampai jalan itu berkelok di balik semak belukar lalu kuteliti jalan yang lain, sama, mungkin malah tampak lebih baik berumput segar dan menarik hati meskipun jejak yang telah melewatinya juga telah merundukkan rerumputannya dan pagi itu dua jalan sama-sama terbentang tertutup daun-daun yang tak pernah terinjak oh, kusimpan jalan yang pertama untuk lain hari! meski aku tak tahu ujung jalan sana apakah ada jalan kembali Akan kuceritakan dengan lirih suatu waktu berabad kemudian:   Dua jalan terbentang di hutan, dan aku... aku mengambil jalan yang tak diambil orang lain dan kutahu, itulah yang membuat perbedaan The Road Not Taken;  -Robert Frost- Two roads diverged in a yellow wood And sorry I could not travel both   An...

Batu-Batu yang Menghalangi

Batu-Batu yang Menghalangi * Bukankah setiap lembar kehidupan yang kita tempuh dalam langkah kehidupan kita terdapat batu-batu yang menghalangi hingga kita mencapai tujuan akhir? Mengapa kita menginginkan semua ini segera berlalu, padahal kita tidak mengetahui kehidupan kita pada lembar yang akan datang, akankah lebih baik ataukah sebaliknya? Dalam setiap kehidupan manusia, pasti  akan ada ujian-ujian yang menimpanya. Semakin lama manusia menjalani kehidupan di permukaan bumi ini, semakin besar pula ujiannya. Setiap ujian seorang hamba disesuaikan dengan kadar keimanan hamba tersebut. Nabi sallahu’alaihi wasallam pernah ditanya, siapakah dari golongan manusia yang paling berat cobannya? Nabi menjawab, “Para Nabi, kemudian orang sholih, kemudian yang paling mirip dengan mereka, kemudian yang paling mirip dengan mereka di antara manusia. Seseorang diberi cobaan sesuai dengan diennya. Jika diennya kuat, cobaannya pun akan lebih berat dan jika diennya lemah, akan diringankan cobaann...