Langsung ke konten utama

Sang Raja dan Pencuri Cinta

Sang Raja dan Pencuri Cinta

on Sunday, September 19, 2010 

Kucing di Genteng dan Tergila-gila Cinta
Tengah hari di bulan Ramadhan, ustadzahku  meminta sebagian  murid tingkat satu, siapa saja boleh, untuk menemuinya di musholla. Tak biasanya beliau mengumpulkan kami—siapa saja boleh itu—pada jam istirahat siang. Beberapa murid tingkat satu yang tergolong orang-orang yang suka penasaran dengan hal-hal tak biasa itu pun bergegas ke musholla.

Dari dalam musholla, tampak di sudut kanan atasnya, plafon (atap yang putih itu lho-red) terbuka. Menjulurlah tangga bambu, miring 45, dari lantai menuju lubang plafon itu. Yang membuat murid-murid tercengang adalah sosok yang berdiri di sebelah tangga itu. Ustadzahku yang hafal 30 juz Al Quran sebelum baligh kemudian dilanjutkan dengan mempelajari dan menguasai semua jilid kitab tafsir Ibnu Katsir (± 6 jilid) kemudian kitab-kitab lainnya di usia sangat belia; yang lahir pada bulan dan tahun yang sama denganku; yang menjadi mudir (kepala sekolah) di tahun yang sama ketika aku baru dilantik menjadi MABA FIB UI, sementara ustadzah2 lainnya banyak yg sudah punya anak; yang ketika mengajar membangkitkan semangat, seolah-olah tak ada yang berani berkedip karena takut terlewatkan satu hadits atau perkataan ulama yang diucapkannya dengan lancar dan cepat dalam bahasa Arab yang akan ditanyakannya pd pertemuan selanjutnya sbg kuis; ustadzahku yang cenderung serius, kharismatik, dan disegani; ustadzahku yang nyaris tidak pernah menunjukkan tanda-tanda kelabilan sebelumnya, tiba-tiba berdiri di sebelah tangga di siang bolong dengan kostum tidak biasa.

Entah bagaimana caranya, beliau menutup tubuhnya dengan kain sarung, yang terlihat hanya matanya. Tangannya menggenggam serenteng senjata rahasia, yaitu senter. Murid-murid itu tampaknya membatin, apakah mereka akan diajak bermain ninja hatori-ninja hatorian? Melihat murid-muridnya terpana seperti itu, berkatalah sang ustadzah dengan semangat menggelora.  

“Perhatikan Akhwat sekalian, tampaknya ada kucing yang melahirkan di atas genteng. Beberapa malam ini berisik sekali. Sekarang, Ami dan Mar’ah, kita bertiga naik ke atas. Ayo!”

Dua orang gadis Lombok berjiwa petualang itu, tersenyum girang.

“Nah, kalian yang tersisa, berjaga-jaga di bawah tangga menunggu kita,” Katanya dengan mata berbinar-binar. Murid-murid yang tersisa itu pun saling berpandangan, masih terpana.

“Eh, pegangin tangganya!” mata ustadzahku berbinar lebih terang. Salah satu dari yang tersisa itu memegangi tangga, tetap terpana memandangi ustadzahku yang dengan riang memanjat tangga.

Beberapa menit kemudian, ustadzahku muncul dari lubang plafon, penuh sarang gonggo (sarang laba-laba), matanya sayu, tak ada anak kucing ditangannya. Ia menuruni tangga perlahan, hilang semangat. Dengan bahasa tubuh ia berkata, “Aku sangat kecewa!!!!”. Ami dan Mar’ah muncul beberapa saat kemudian dengan tampang belum-puas-bertualang, sambil bersin-bersin karena tidak menggunakan kostum ninja hatori. 

“Kucingnya nggak ada…” kata ustadzahku lirih, membuat murid-muridnya terenyuh.
“Mmm… laa tahzan, Ustadzah. Kapan-kapan dicoba lagi,” salah satu muridnya mencoba menghibur dan mengelus-elus pundaknya.

Ustadzahku beranjak meninggalkan musholla dalam hening. Namun, tiba-tiba ia berbalik menatap murid-muridnya satu demi satu. Dengan wajah misterius ia berkata,

“Tahu tidak, orang yang tergila-gila cinta hanya bisa berhenti jika ada sebuah musibah yang mencekat tenggorokannya,”

Murid-murid tingkat satu itu kembali terpana, mencoba memecahkan misteri antara kucing dan cinta.

“Gak percaya ya? Itu kata Ibnul Qoyyim Al-Jauzi,” katanya sambil tersenyum lucu.

Bukan gak percaya, Ustadzah. Apa hubungannya kucing di genteng dengan tergila-gila cinta? Hari yang aneh.

Dialah Sang Raja
Esoknya, tepatnya sehari sebelum libur Idul Fitri, ustadzahku dan murid-muridnya bersantai siang hari di salah satu kamar. Dalam perbincangan santai seperti itu kadang-kadang ada ilmu yang sayang untuk dilupakan. Jadi, ada saja murid yang iseng-iseng menyiapkan kertas dan pulpen, bak kestari mencatat notulensi. Kali ini perbincangan berkisar tentang hati. Untuk masalah kejiwaan seperti itu biasanya beliau mencuplik-cuplik Ibnul Qoyyim Al Jauzi.

“ Hati. Asal bentuknya bercahaya. Menyinarkan kilau  terang,” kata Ustadzah, seperti deklamasi. “Kalian tahu tugas hati?”
Murid-muridnya tersenyum menyimpan jawaban masing-masing.
“Tugas hati adalah mencintai,” kata Ustadzah sambil tersenyum dramatis. “Tak ada yang bisa menjalani hidup tanpa cinta. maka gunakanlah hati untuk mencintai.

“Segala sesuatu di dunia ini membutuhkan cinta, tidak bisa lepas dari cinta.” Ustadzahku tampaknya sedang jatuh cinta.

“ Cintailah segala sesuatu karena Allah. Tundukkan cinta karena Allah.” Sampai di sini, mata dan senyum ustadzahku benar-benar seperti wanita belia yang jatuh cinta... Jatuh cinta pada Rabb-nya.

“Cinta itu mengandung keberkahan. Namun, jika cinta tidak karena Allah, keberkahannya akan dicabut. Itulah sebabnya, ada dua jenis nikmat cinta: nafi dan fana. Nafi adalah nikmat cinta yang tidak akan hilang, cinta yang mengantar ke surga. Fana adalah nikmat cinta yang hanya sekejap, di dunia saja.” 

Set, set, set. Sang kestari sibuk mencatat.

“Oya Ustadzah, apa maksudnya mencintai karena Allah?,” tanya salah seorang muridnya.

“Hm ya, misalnya, cinta antara Ami dengan Mar’ah atau teman-teman sekelas lainnya. Dikatakan mahabbah lillah wa fillah ketika cinta tsb mengantarkan seseorang untuk melakukan apapun yang dicintai Allah. Mencintai seseorang karena dia sangat cinta pd Allah. Mencintai orang yg dicintai Allah krn tinggi ketaatannya. Seseorang mencintai temannya yang sabar karena Allah mencintai kesabaran, dll.”

Jangan biarkan orang yang kita cintai ada dalam kefuturan. Cerahkan hatinya. Saling menasihati dan membangkitkan menuju Allah. Sadar ataupun tidak, jangan menghalangi dia berbuat baik. Bukan mahabbah lillah wa fillah jika membiarkan orang yang dicintai berada di atas kemaksiatan, bahkan mendukungnya. Apalagi jika menjadi penyebab orang itu melakukan maksiat dan futur.

Cinta sering membuat orang bersikap tidak normal. Nah, itulah tergila-gila cinta….”

“Oooh….” Murid-muridnya mengangguk-angguk meski sebenarnya mereka belum paham hubungannya dengan kucing di genteng tempo hari.

“Satu2nya yang bisa menormalkan cinta adalah ilmu… Dengan ilmu, cinta tak bisa dilecehkan. Dengan ilmu, cinta mengantar kita ke surga. Kita mesti mengetahui hakikat cinta sesungguhnya.

Tanpa ilmu, cinta bisa mengantar kita ke neraka… saling menghujat, saling menyalahkan… Seperti dikatakan dalam surat  Az-Zukhruf ayat 67. Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa”

Sret, sret, sret. Kertas habis. Kestari pun bingung. Menangkap gelagat anak muridnya, sang Ustadzah merobek bagian tengah buku tulis yang sejak tadi dipakainya berkipas-kipas.

“Jazakillah, Ustadzah. Hehe.” Kestarinya nyengir.  “ Wa iyyaki,” Ustadzah mengangguk-angguk.

Setelah pariwara tadi, ustadzahku melanjutkan, “Dalam menjalani kehidupan, ada 2 gelombang manusia; yang pasang dan yang surut imannya. Jika mencintai dengan ilmu, kita akan dominan pada yang baik. Segera bangkit ketika jatuh.

Hati itu cahaya. Kata Imam Malik, jangan pernah meredupkannya dengan 1 kemaksiatan. Maksiat dan ketaatan itu seperti mata rantai: Jika melakukan 1 kemaksiatan/ketaatan, akan berantai pd kemaksiatan/ketaatan yang lain. Misalnya ada 2 jalan: jalan kesesatan dan jalan kebenaran, tanpa ilmu seseorang bisa mengambil jalan kesesatan. Kesalahan kedua akan membuatnya tambah tersesat. Begitu seterusnya.

Hati-hati jika sempat berpikir, gak apa2 deh dosa, yg penting hati tenang… Itulah syubhat. Sesungguhnya dosa akan menghilangkan kenikmatan hidup. Dosa adalah ketenangan semu. Dosa adalah racun, dosa adalah kesengsaraan, dosa adalah kesedihan dan kekecewaan. Dosa adalah penyakit. Dosa adalah terlantar… Sesungguhnya bukan mata yang buta, tapi hati. Yang di dalam dada.

Tugas hati itu mencintai. Hidup itu pakai cinta. Tugas manusia dalam hidup adalah ibadah (bukan cuma sholat puasa aja, senyum juga ibadah -red). Tanpa cinta pd Allah, hidup akan sulit. Syariat akan jadi beban berat. Banyak yang bilang kebenaran itu pahit. Namun, dengan cinta, kebenaran itu akan terasa manis. Menjalani syariat akan menjadi ringan. Ya, pemabuk cinta akan mudah menjalankan syariat.”

Seet..seet..seeeet… Tulisan melambat. Walaupun masih semangat mendengarkan, kestari yang merasa pegal menulis itu mulai merindukan laptopnya.

“Kalian suka sekali ya, mendengar cerita tentang hati?” tanya ustadzahku.

“Iya, kan hati adalah raja….” seperti ada aba-aba paskibra, beberapa murid menjawab serempak, lalu tertawa pula serempak.

 “Ketahuilah bahwa di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka akan baik pula seluruh tubuhnya. Jika ia rusak, rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah, ia adalah hati.” Salah seorang murid mengutip hadits arbain keenam  dengan bahasa Arab. Tuing-tuing! Ia menaik-turunkan alisnya seolah-olah berkata, “Masih hapal kan, ana (saya/aku/gue -red)”..

Ustadzah mengangguk. “Para ulama mengatakan, hati adalah sesuatu yang diikuti. Anggota badan adalah pengikutnya, tentaranya, tidak akan menyelisihinya. Jika kita bertindak melawan kata hati, artinya hati kita dicuri. Pemimpin kita ditawan.”

Yang Mencuri Cinta, Yang Menawan Raja
“Kalian tahu siapa pencuri cinta, pencuri hati?” tanya Ustadzah.
Murid-murid terdiam. Salah satu dari mereka bahkan tegang seperti menonton klimaks film horor.
“Pencuri hati adalah setan. Ia mencurinya dari manusia.”
“Bagaimana setan mencurinya, Ustadzah?” salah satu muridnya makin tegang.
“Dia mencurinya misalnya dengan mencuri shaum senin-kamis kita, sholat malam kita, sholat dhuha kita, bahkan mulai mencuri sholat wajib kita. Dia mencuri kesucian hati, mencuri semangat, mencuri kesungguhan kita.  Setan mencuri apa saja, segala hal yang berharga.

Pencuri itu sangat pandai. Ia tidak tampak. Ia masuk sembunyi-sembunyi. Hanya orang yang terjaga dan waspada yang tidak akan dicuri. Jika kita berjaga, mengunci semua pintu dengan selalu mengingat Sang Khalik, pencuri tak akan bisa masuk, meski kita sedang tidur. Semakin bagus kualitas kunci, semakin sulit pencuri itu masuk.

Sayangnya, banyak yang lupa menutup pintunya, menguncinya, bahkan ada yang lupa pasang pintu hingga setan bebas keluar-masuk mencuri semua barang berharga sampai ludes tak bersisa. Parahnya, banyak pula yang tidak menyadari dirinya kecurian, bahkan kerampokan.”

Seorang murid, tampak sangat sedih, bertanya,”Ustadzah, mungkinkah sesuatu yang telah dicuri itu diambil kembali?

“Mungkin saja. Kita bisa melacaknya dari pintu mana pencuri itu masuk. Bisa juga minta bantuan polisi untuk mendeteksi bagaimana pencuri itu bisa berhasil masuk, ke mana pencuri itu membawa barang berharga milik kita.”

Murid-muridnya ingin penjelasan lebih lanjut mengenai analogi Ustadzah barusan. Namun, waktu jualah yang memisahkan. Bel pun berbunyi. Sang Ustadzah mengakhiri bincang-bincang “santai” di kamar itu dengan berpesan,

“Tancapkanlah keistiqomahan. Perbaiki pintu-pintu kalian dan kunci rapat-rapat. Tingkatkan kewaspadaan.”

Waspadalah! Waspadalah!!! Itu intinya. Kestari menyimpulkan notulensinya hari itu.

Ia bergegas merapikan kertas-kertasnya sambil merenung-renung tentang pertanyaan terakhir tadi. Bagaimana mengambil kembali sesuatu yang telah dicuri?

Hati yang bisa dicuri adalah hati yang tidak dijaga. Hati yang tidak dijaga itu bisa kena penyakit. Penyakit hati.  Ia pun teringat pernah menulis notulensi dalam sesi perbincangan yang lain. Ia mencatat, penyakit hati atau futur penyebabnya adalah…maksiat. Dalam notulensi itu ia juga mencatat obat penyakit hati yang dikemukakan Hasan Al Bashri. Ada empat: tilawah Al Qur’an, berada dalam majelis ilmu, uzlah atau menyendiri, dan berdoa agar diberi hati yang baru. begitu pula riwayat Ibnu Mas'ud.

Suatu ketika seseorang datang kepada Ibnu Mas’ud, salah seorang sahabat utama Rasulullah. Ia mengeluh, “Wahai Ibnu Mas’ud, nasihatilah aku dan berilah obat bagi jiwaku yang gelisah ini. Hari-hariku penuh dengan perasaan tak tenteram, jiwaku gelisah, dan pikiranku kusut. Makan tak enak, tidur pun tak nyenyak," kata orang tersebut.

Ibnu Mas’ud menjawab, ”Kalau penyakit itu yang menimpamu, maka bawalah hatimu mengunjungi tiga tempat. Pertama, tempat orang membaca al-Quran. Engkau baca al-Quran atau engkau dengar baik-baik orang yang membacanya. Kedua, engkau pergi ke majelis pengajian yang mengingatkan hatimu kepada Allah. Ketiga, engkau cari waktu dan tempat yang sunyi, di sana engkau berkhalwat mengabdi kepada Allah. Nasihat sahabat Nabi itu segera dilaksanakan orang tersebut. Sesampainya di rumah, segera ia berwudhu kemudian diambilnya Al-quran dan dibacanya dengan khusyuk. Selesai membaca, ia segera dapati hatinya memperoleh ketenteraman, dan jiwanya pun tenang. Pikirannya segar kembali, hidupnya terasa bergairah kembali. Padahal, ia baru melaksanakan satu dari tiga nasihat yang disampaikan sahabat Rasulullah saw tersebut.

Obat pertama, membaca Al Quran, artinya membaca surat cinta dari Sang Pemilik cinta...
” Dan kami turunkan Al Quran suatu penawar (obat) bagi orang-orang yang beriman..” (QS Al Isra: 82)
Surat cinta dari-Nya... Sebaik-baik penawar.

Obat kedua, berada dalam majelis ilmu atau majelis yang di dalamnya dibacakan Al Quran. Itulah majelis cinta. Majelis itu bisa ditemui dalam kajian-kajian keislaman atau halaqah. Tak hanya itu, majelis cinta juga bisa ditemui ketika kita mendekati orang yang lebih baik pemahaman agamanya atau orang yang lagi naik semangat keimanannya. Maksudnya, kalau lagi futur jangan dekat-dekat orang yang sama2 futur.

Obat ketiga, yaitu menyendiri…ajaklah raja dalam diri kita untuk berdialog dengan Maha Raja..Ada sebuah artikel menarik yang menceritakan... Para pencinta sejati memang membutuhkan saat-saat hening dan sunyi seperti itu. Karena cinta adalah  tindakan memberi tanpa henti, maka para pencinta sejati membutuhkan energi besar untuk menjaga kesinambungan kontribusinya. Dalam keheningan dan kesunyian seperti itulah ia menyerap energi kehidupan ke dalam dirinya. Itu adalah jenak-jenak di mana ia kembali ke dalam dirinya sendiri. Menemui ruhnya, menyapa jiwanya... Di sana ia menyatukan kembali bagian-bagian dirinya yang mungkin berserakan dalam lelah atau tercabik di jalan kehidupan yang panjang. Di sana ia menyegarkan kembali pada cita-cita luhur dari cinta yang agung. Di sana ia menguatkan kembali komitmennya pada cita-cita luhur cintanya. Di sana ia menyerap semua energi kehidupan yang ia perlukan untuk melanjutkan perjalanan cintanya. Di sana ia meneguhkan kembali tekadnya untuk terus mencinta dan mencinta. Itu juga adalah jenak-jenak di mana ia kembali ke dalam dirinya lalu keluar membawa ruh, akal dan jiwanya, menemui langit. Di sana ia menemukan kembali keyakinannya pada kebenaran jalan cintanya. Di sana ia menyerap bantuan langit yang tak terbatas. Di sana ia menemukan kembali ketenangannya yang terganggu di sepanjang jalan cintanya.

Jika tampaknya semua usaha sudah dilakukan, semua obat telah dicoba tapi tak berhasil, mungkin penyakit hati kita semakin akut… hati kita mungkin hampir mati… Oleh karena itu, sepenuh hati, berdoalah… Minta hati yang baru…menggantikan hati lama yang telah usang, legam… Mintalah pada Pemilik Hati. Sesungguhnya, Dia Maha Pemurah. Mintalah pada-Nya….

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Road Not Taken: It tells us about choosing.

Jalan yang Tak Diambil  -Robert Frost- Dua jalan bercabang di hutan yang menguning sayang, aku tak bisa menempuh keduanya sebagai seorang pengembara, lama aku berdiri   dan menatap salah satunya sejauh yang kubisa sampai jalan itu berkelok di balik semak belukar lalu kuteliti jalan yang lain, sama, mungkin malah tampak lebih baik berumput segar dan menarik hati meskipun jejak yang telah melewatinya juga telah merundukkan rerumputannya dan pagi itu dua jalan sama-sama terbentang tertutup daun-daun yang tak pernah terinjak oh, kusimpan jalan yang pertama untuk lain hari! meski aku tak tahu ujung jalan sana apakah ada jalan kembali Akan kuceritakan dengan lirih suatu waktu berabad kemudian:   Dua jalan terbentang di hutan, dan aku... aku mengambil jalan yang tak diambil orang lain dan kutahu, itulah yang membuat perbedaan The Road Not Taken;  -Robert Frost- Two roads diverged in a yellow wood And sorry I could not travel both   An...

Batu-Batu yang Menghalangi

Batu-Batu yang Menghalangi * Bukankah setiap lembar kehidupan yang kita tempuh dalam langkah kehidupan kita terdapat batu-batu yang menghalangi hingga kita mencapai tujuan akhir? Mengapa kita menginginkan semua ini segera berlalu, padahal kita tidak mengetahui kehidupan kita pada lembar yang akan datang, akankah lebih baik ataukah sebaliknya? Dalam setiap kehidupan manusia, pasti  akan ada ujian-ujian yang menimpanya. Semakin lama manusia menjalani kehidupan di permukaan bumi ini, semakin besar pula ujiannya. Setiap ujian seorang hamba disesuaikan dengan kadar keimanan hamba tersebut. Nabi sallahu’alaihi wasallam pernah ditanya, siapakah dari golongan manusia yang paling berat cobannya? Nabi menjawab, “Para Nabi, kemudian orang sholih, kemudian yang paling mirip dengan mereka, kemudian yang paling mirip dengan mereka di antara manusia. Seseorang diberi cobaan sesuai dengan diennya. Jika diennya kuat, cobaannya pun akan lebih berat dan jika diennya lemah, akan diringankan cobaann...