Menaklukkan Malam
on Monday, January 24, 2011 at 12:23pm
Ini cerita tentang menaklukkan malam
Lewat dari hitungan kesepuluh
dentang kesunyian diaba-aba
tembok-tembok malam dikunci.
aku tak bisa keluar menyaksikan bulan merangkak di luar sana..
atau gradasi langit yang bergeser dari kegelapan lalu kelam lalu pekat
atau bintang-bintang cantik saling berkedip dalam konfigurasi masing-masing
satu per satu kawan menjemput lelap
bertekad akan melanjutkan pertempuran di penghujung malam
aku tidak, tidak bisa.
tidak ada istirahat dalam pertempuranku kali ini.
belum selesai,
aku harus terus menekuri tiap bijih detik
menghafal tanpa suara...
Kam baynassamawaati wal ardh?
berapa jarak antara langit dan bumi?
"Antara langit dan bumi jaraknya perjalanan 500 tahun,
dan antara satu langit ke langit lainnya jaraknya perjalanan 500 tahun,
sedang ketebalan masing-masing langit adalah perjalanan 500 tahun.
Antara langit yang ketujuh dengan ‘Arsy ada samudra,
dan antara dasar samudra itu dengan permukaannya seperti jarak antara langit dengan bumi.
Allah Ta’ala di atas itu semua
dan tidak tersembunyi bagi-Nya sesuatu apapun dari perbuatan anak keturunan Adam.”
(Diriwayatkan oleh Ibnu Mahdi dari Hamad bin Salamah, dari ‘Ashim, dari Zirr, dari ‘Abdullah Ibnu Mas’ud)
Aku lama terlarut dalam ketakjuban,
kemudian membalik halaman
kaliimataani
khofiifataani
'alaa lisaani
tsaqiilataani
fil miizaani
habiibataani
ilarrahmaani
;Subhaanallaah wabihamdih
subhaanallaahil ‘adzhiim.
(HR Bukhari-Muslim)
Aku terkesima dengan rimanya...
kucoba artikan:
Dua kalimat,
ringan di lisan,
berat di timbangan
disenangi Yang Maha Pengasih
adalah
Subhaanallaah wabihamdih
Subhaanallaahil ‘adzhiim.”
aku membalik halaman lagi,
setiap aku menghafal satu, ingin kunikmati benar-benar
maka renunganku mengembara
setelah sekian lama, baru aku menghafal yang lain.
terus begitu.
;malam rasanya panjang...
Tapi tahu-tahu,
tinggal sepertiga malam lagi
lembaran-lembaran itu masih banyak !!!
Entah kenapa, aku tidak ingin mempercepat proses balik-membalik itu.
tidak ingin "yang penting hafal"
setidaknya untuk kali ini,
aku ingin sepenuhnya menikmati pertempuran,
sampai jauh ke dalam hati
Hingga tembok-tembok malam dibuka
hiduplah malam,
yang lelap terjaga
tak lama bulan subuh keperakan
mengerling setelah membias awan semalaman
;waktu habis.
hafalanku belum habis.
langit berganti shift
giliran matahari sekarang menyaksikan aku
sementara aku menyaksikan kertas ujian
;tertegun
lima puluh persen soal yang muncul
tak sempat kupelajari saat menaklukkan malam
Aku di ambang frustasi
jika saja aku tidak ingat
sebenar-benarnya ujian bagi penuntut ilmu adalah
KEIKHLASAN
dan
"bahwa belajar tidaklah melulu untuk mengejar
dan membuktikan sesuatu.." (dwilogi Padang Bulan)
maka,pada kertas ujian yang tampak innocent,
kudedikasikan senyuman
atas penaklukan malam
atas perjalanan yang begitu kunikmati malam itu.
Komentar
Posting Komentar